Para santri dan guru di Pondok Pesantren (PP) Thariqul Mahfudz, Jembrana, Bali, masih berjuang mengatasi dampak banjir dahsyat yang terjadi pada Oktober 2022 dan kembali melanda pada Senin (15/12/2025). Banjir tersebut merusak berbagai perlengkapan belajar, termasuk kitab-kitab dan catatan rujukan penting.
Tiga tahun pasca-banjir pertama, fasilitas belajar seperti meja dan buku belum sepenuhnya memadai untuk setiap santri. Akibatnya, para santri harus bergantian menggunakan peralatan yang ada demi mengejar ilmu.
“Hancur semua. Lemari anak-anak campur sama lumpur dan kita perlu satu bulan untuk pembersihan, hingga bisa normal kembali. Anak-anak belajar di sini tanpa meja beralas ubin. Padahal permukaan ubin tidak rata,” ujar Wakil Pengasuh PP Thariqul Mahfudz, Ali Fauzi. Ia menambahkan bahwa belajar tanpa meja membuat para santri harus membungkuk setiap malam, menyebabkan rasa pegal pada punggung dan pinggang.
Fitriani, salah satu santri, menceritakan pengalamannya, “Tiap malam harus bungkuk gitu, jadi kalau bangun kaya nenek-nenek gitu. Punggung dan pinggang rasanya pegal. Setelah belajar, kita jadi tukang pijat gantian dengan teman-teman yang lain untuk meredakan pegal.”
Banjir yang kembali melanda pada 15 Desember 2025, meskipun digambarkan Ali Fauzi sebagai ‘cuma lewat’ dibandingkan banjir 2022, tetap menghanyutkan berbagai rujukan ilmu dan perlengkapan santri, pengasuh, serta inventaris pesantren. Setelah surut, seluruh penghuni pesantren kembali bergotong royong membersihkan lumpur dan melanjutkan aktivitas belajar dengan perlengkapan seadanya.
Ali Fauzi berharap para siswa segera mendapatkan perlengkapan sekolah baru, seperti meja lipat, agar proses mengaji, membaca, dan menulis menjadi lebih mudah. Penggantian buku dan kitab juga sangat diharapkan demi kelancaran proses belajar.
Tantangan Pesantren di Daerah Minoritas Muslim
PP Thariqul Mahfudz, yang berlokasi di daerah minoritas muslim, tetap diminati oleh santri dari Bali, Jakarta, dan berbagai daerah lain dengan latar belakang keluarga yang beragam. Pesantren ini menawarkan pendidikan formal dan agama secara gratis, memungkinkan santri yatim piatu atau dari keluarga kurang mampu untuk fokus pada pembelajaran tanpa beban biaya.
Jumlah santri terus meningkat, mencapai sekitar 200 santriwan dan santriwati pada tahun 2025. Peningkatan ini menjadi tantangan bagi pengelola untuk memenuhi kebutuhan harian, termasuk makan dan keperluan tak terduga seperti biaya pengobatan santri sakit atau penanganan musibah.
Meskipun pesantren telah berupaya memenuhi kebutuhan melalui layanan air minum isi ulang dan penjualan tiket penyeberangan Jawa-Bali, pendapatan tersebut belum mencukupi. Donasi dari masyarakat melalui situs berbuatbaik.id diharapkan dapat membantu para santri agar dapat belajar dengan baik dan memenuhi kebutuhan harian mereka.






