Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dilaporkan telah melakukan operasi militer untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya pada Sabtu (3/1/2026). Trump menyatakan AS akan mengambil alih kendali Venezuela, termasuk pengelolaan sumber dayanya yang kaya akan minyak. Tindakan ini memicu sorotan tajam terhadap FIFA, yang baru-baru ini memberikan gelar perdamaian dunia kepada Trump.
FIFA Peace Prize untuk Trump Tuai Kontroversi
Pada 5 Desember 2025, FIFA menganugerahkan FIFA Peace Prize kepada Donald Trump. Penghargaan ini dinilai sebagai upaya FIFA untuk mendekati rezim Trump menjelang Piala Dunia 2026. Dalam video yang dirilis, Presiden FIFA Gianni Infantino memuji Trump atas perannya dalam menjernihkan situasi konflik global, mulai dari Kongo hingga perang Thailand dan Kamboja.
FIFA menyatakan, “Dia mendukung upaya untuk memfasilitasi gencatan senjata dan mempromosikan keterlibatan diplomatik, tindakan yang membantu menciptakan kondisi di mana perdamaian dapat tumbuh.” FIFA juga menyoroti pencapaian Trump dalam Perjanjian Abraham yang membawa kemajuan di Timur Tengah, serta perannya dalam menciptakan perdamaian antara berbagai negara seperti Republik Demokratik Kongo dan Rwanda, Kamboja dan Thailand, Kosovo dan Serbia, India dan Pakistan, Mesir dan Ethiopia, serta Armenia dan Azerbaijan.
Lebih lanjut, FIFA mengklaim bahwa tindakan Presiden Donald J. Trump telah memastikan perdamaian antara Israel dan Hamas melalui Rencana Perdamaian Gaza, serta upayanya untuk perdamaian antara Rusia dan Ukraina. “Ini adalah masa kepresidenan yang ditandai dengan tindakan untuk mengejar perdamaian di seluruh dunia,” tegas FIFA dalam video tersebut.
Netizen Serang FIFA Pasca-Penangkapan Maduro
Aksi AS yang menangkap Presiden Venezuela kini membuat FIFA menjadi sasaran kemarahan netizen. Banyak pihak meminta FIFA bertanggung jawab atas tindakan yang dianggap sebagai preseden buruk ini.
Salah satu netizen menyindir, “Lihat siapa yang menyerang Venezuela? Pemenang FIFA Peace Prize. Ironi.”
Kecaman lain datang dari netizen yang menyatakan, “Hanya di dunia sialan ini, seorang pria yang meledakkan ‘kapal narkoba,’ mengancam perang dengan Venezuela, dan memiliki Gestapo yang menghilang kan warganya sendiri, bisa memenangkan hadiah perdamaian-bahkan jenis yang omong kosong sekalipun. FIFA adalah lelucon sialan, dan si brengsek itu semakin berani dari sebelumnya.”
Netizen lainnya turut menimpali, “FIFA memberikan Donald Trump penghargaan FIFA Peace Prize yang dibuat-buat kurang dari sebulan yang lalu. Tengah malam tadi, Trump telah membom Venezuela.”
AS menargetkan Venezuela belakangan ini dengan alasan keterlibatan Maduro dalam perdagangan narkoba, tuduhan yang dibantah oleh pihak Venezuela.




