Mantan pesepakbola top dunia, Thierry Henry, menyuarakan ketidaksetujuannya terhadap pemecatan Xabi Alonso dari kursi kepelatihan Real Madrid. Henry membandingkan perbedaan pendekatan antara Real Madrid dan rival abadinya, Barcelona, dalam menangani pelatih.
Xabi Alonso diberhentikan oleh Real Madrid hanya sehari setelah kekalahan timnya dari Barcelona di final Piala Super Spanyol akhir pekan lalu. Alonso hanya menjabat selama tujuh bulan, namun berhasil memenangi 24 dari 34 pertandingan dengan hanya enam kekalahan.
Pemecatan ini diduga kuat akibat kegagalan Alonso dalam menguasai ruang ganti tim. Ia dikabarkan bersitegang dengan beberapa pemain berpengaruh seperti Vinicius Junior dan Federico Valverde. Performa Madrid pun dilaporkan menurun dalam tiga bulan terakhir, hanya memenangi separuh dari total pertandingan.
Thierry Henry, yang pernah merumput di Arsenal dan Barcelona, menegaskan bahwa pemecatan ini tidak mencerminkan kualitas Alonso sebagai pelatih. Ia berpendapat bahwa para pemain Madrid seharusnya lebih mendengarkan Alonso, yang terbukti sukses saat melatih Bayer Leverkusen.
“Menurut saya tidak masuk akal jika seorang manajer dapat memiliki banyak masalah hanya setelah enam bulan bekerja. Namun, Anda tahu, di sebuah klub selevel Real Madrid atau Barca, Anda memang bisa bangun dari tidur lalu mendengar kabar buruk. Banyak hal bisa berubah, dan memang begitu. Saya merasa ini tidak masuk akal,” ujar Henry kepada CBS Sports.
Henry menambahkan, seharusnya klub tidak mempertanyakan pelatih jika sudah memberikan kepercayaan.
“Saya kira mereka tidak seharusnya mempertanyakan pelatihnya. Jika Anda punya seorang pelatih, Anda berusaha mencari tahu apa yang bisa dia lakukan.”
Mengenai isu bahwa Alonso dianggap terlalu banyak melatih dan kurang mengurus tim, Henry tidak sependapat.
“Untuk beberapa orang, dia dirasa terlalu banyak melatih dan tidak cukup mengurus timnya. Saya tidak setuju, tapi begitulah adanya. Saya merasa kasihan kepada Alonso karena Anda bisa melihat apa yang sudah dia lakukan di Leverkusen ketika dia mendapatkan kesempatan melatih sebuah tim yang mematuhi apa yang akan dia lakukan.”
Perbedaan pendekatan antara kedua klub raksasa Spanyol itu menjadi sorotan Henry.
“Di Barcelona, mereka membiarkan para pemain jadi pemain. Mereka melatih para pelatih di sana. Mereka punya gaya bermain yang harus dihormati. Sedangkan di Real Madrid, pendekatannya berbeda. Di sana, 90% pemain, 10% pelatih. Anda harus membiarkan para pemain berkuasa. Kadang-kadang ego terlibat, dan semuanya jadi rumit,” pungkas Henry.






