Berita

Mantan Istri Bantah Blokir Akses, Ungkap Alasan Lindungi Anak dari KDRT Psikologis

Advertisement

JAKARTA – Dessy Purnomo, mantan istri dari pria berinisial JE di Kelapa Gading, Jakarta Utara, membantah tudingan bahwa dirinya menutup akses sepenuhnya setelah anaknya direbut paksa oleh mantan suaminya. Dessy menjelaskan bahwa pemblokiran hanya dilakukan pada nomor WhatsApp dan ponsel pribadi JE, namun keluarga JE masih memiliki akses untuk berkomunikasi dengannya.

“Mantan suami saya memang saya block dari WhatsApp dari nomor HP. Tetapi keluarga-keluarganya yang tinggal bersama dengan dia seperti ayahnya, ibunya, kakaknya memiliki akses kepada saya. Saya tidak pernah memblokir mereka,” kata Dessy kepada detikcom, Selasa (6/1/2025).

Dessy mengungkapkan bahwa JE tidak bertemu dengan anak mereka selama dua bulan terakhir sejak akhir Oktober 2025. Proses perceraian yang dimulai ketika anak mereka berusia 1,5 tahun berujung pada hak asuh yang sempat jatuh kepada JE. Setelah melalui proses banding yang kalah, Dessy akhirnya mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan memenangkannya, sehingga hak asuh anak diberikan kepadanya.

Selama proses persidangan yang memakan waktu 1 tahun 8 bulan, Dessy mengaku tidak diberikan akses untuk bertemu anaknya oleh JE. “Selama saya menjalani proses persidangan dari awal sampai kasasi memakan waktu 1 tahun 8 bulan. Selama itu juga saya tidak diberikan akses (bertemu anak). Kalau dia bilang tidak diberikan akses, ya saya juga bisa bilang dia tidak memberikan saya akses. Dalam arti di sini saya mau ketemu anak, dia tidak pernah menggubris,” ujarnya.

Setelah hak asuh jatuh ke tangannya, Dessy menjemput anaknya di sekolah. Ia mengaku JE tidak berupaya menghubunginya atau mencari tahu keberadaan anak mereka. “Dia menghilang, dia tidak mencoba menghubungi saya dengan cara lain, atau bahkan katakan saja dia sudah punya kuasa hukum sejak lama, dia bisa juga menghubungi saya melalui kuasa hukum, itu merupakan salah satu upaya, tapi tidak dilakukan. Dia memilih untuk mengambil jalan seperti ini. Diam-diam menguntit saya, melihat saya tinggal bersama anak, lalu dia tiba-tiba mengambil anak saya di parkiran seperti yang ada di berita,” ucapnya.

Advertisement

Dessy menambahkan bahwa ia mengenali JE meskipun mantan suaminya mengenakan masker dan pakaian serba hitam, serta dibantu oleh dua temannya saat mengambil paksa anak mereka. Ia mengungkapkan alasan memblokir kontak mantan suaminya adalah untuk menjaga tumbuh kembang anak dari perlakuan yang kurang baik. “Sebelumnya saya mengalami KDRT psikis lah ya, saat saya masih menikah dengan si pelaku. Dan saya tidak mau sampai anak saya bertumbuh dan mendapatkan perlakuan yang sama dari si ayahnya ini. Dengan saya memblokir dia, salah satu langkah protective saya sebagai seorang ibu,” imbuhnya.

Dessy mengapresiasi kinerja kepolisian Sektor Kelapa Gading yang sigap menangani laporannya. “Saya sangat mengapresiasi kepolisian Indonesia terutama Polsek Kelapa Gading yang menangani yang menanggapi laporan saya dengan gercep, tanpa ragu-ragu, mendengar cerita kronologi dan melihat bukti CCTV kejadian. Lalu benar-benar memutuskan untuk menindaklanjuti,” jelasnya.

Sebelumnya, Kapolsek Kelapa Gading Kompol Seto Handoko menyatakan bahwa JE dan Dessy telah bercerai. Berdasarkan putusan Mahkamah Agung Nomor 3218/K/Pdt/2025, hak asuh anak jatuh kepada Dessy. JE mengaku sulit bertemu anaknya karena mantan istrinya tidak bisa dihubungi sejak tiga bulan lalu. “Karena mantan istri (korban) tidak bisa dihubungi sejak 3 bulan lalu sampai saat ini dan JE tidak bisa tidak ada akses untuk bertemu dengan anaknya maka dari itu JE mengambil paksa anak tersebut yang dibantu oleh 2 temannya,” kata Seto.

JE bersama dua rekannya, JP dan D, merebut paksa anak tersebut pada Sabtu (3/1). Aksi tersebut terjadi usai korban beribadah di gereja di Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Datang satu orang pria langsung mengambil paksa anak korban tersebut kemudian langsung melarikan diri melalui tangga darurat. Pelaku langsung dibantu oleh rekan pelaku yang telah menunggu dan membawa mobil Fortuner berwarna putih,” tutur Seto.

Advertisement